Tunggu Aku, Kakek!

Kakek berharap malam ini adalah malam penutupan untuk seluruh kasus yang menimpa keluarga kami.

Tepat pada jam 12.00 kita sudah menempati posisi masing-masing. Saat ini kakek menjadi team support dimana kakek bertugas untuk memastikan jalur yang aku tuju telah benar dan bersih dari pasukan. Kakek dengan senapan laras panjangnya dan peredam akan mensupport aku yang masuk kedalam pabrik tersebut. Semenit kemudian terdengar tembakan dari samping dan belakang Gedung, dua orang team jendral toriq telah berhasil menarik perhatian, namun seperti membangunkan macan yang sedang tertidur. Lampu Pabrik tersebut menyala semua yang membuat sekeliling menjadi terang benderang. Sekitar puluhan orang telah keluar dari pabrik tersebut. Ternyata orang yang berjaga-jaga menjadi hampir 4 kali lipatnya dari terakhir panik pantauan kakek.

Aku dan kakek tidak akan gentar. Kakek berada di sebelah kiri Gedung dan aku berada didepan Gedung, pada saat kehebohan suara penyerangan tersebut. Kakek sudah melakukan beberapa kali tembakan kearah lampu untuk memancing orang seakan-akan serangan terjadi dari arah manapun.

Aku langsung lari sekencang mungkin kearah pabrik. Aku menuju tempat sumber listrik agar aku dapat mematikan jalur listrik tersebut, hanya 20 detik waktu yang kubutuhkan untuk menghancurkan sumber listrik tersebut dan seketika lampu padam semua dan hanya menyisakan pasukan yang panik dengan menyalakan senter yang mereka bawa. Senter ini menjadi sasaran yang empuk untuk kakek, perlahan dengan senapannya kakek menghabis isatu-persatu pasukan yang menyalakan senternya. Dan aku pun perlahan memasuki pabrik dengan menggunakan kacamata nightvision. Timer mulai berputar, aku hanya mempunyai waktu sekitar 15 menit untuk melakukan rencana ini semua. Aku mulai melumpuhkan satu persatu orang yang berada didalam ruangan dengan pedang karena aku tahu, pedang tidak akan mengeluarkan suara.

Orang didalam pabrik pun sudah menyadari kehadiran orang lain selain pasukan mereka, dan berusaha mencari arah sumber suara. Pada akhirnya aku juga menggunakan pistol dengan peredam untuk menghabisi mereka satu persatu. Lima menit telah berlalu, mungkin aku sudah menghabisi sekitar 25 orang. Namun entah mengapa orang didalam pabrik ini seperti tidak ada habisnya. Aku sudah menaruh 2 bahan peledak di ujung pabrik bagian luar, tinggal 2 bagian lagi di ujung pabrik bagian dalam. Namun menit berikutnya, nyawa ku hampir melayang.

Tepat saat aku mencoba memasuki pabrik bagian dalam, tiba-tiba lampu menyala dan menyisakan aku sedang berada pada tengah Gedung. Seketika semua senjata mengarah kepadaku dan detik berikutnya aku lari dengan seluruh senjata sudah menembak kearah ku. Aku berusaha menghindar dengan sekuat tenaga, dan membalas tembakan itu namun memang sudah tidak dapat terhindar, aku tertembak pada bagian bahu dan tangan. Aku tidak dapat menggunakan tangan kiri ku. Tinggal tangan kanan ku saja yang masih berfungsi.

Detik demi detik menjadi sebuah pertempuran hebat, 1 melawan lebih dari 50 orang. Setelah terdengar suara tembakan, kakek bertanya dengan suara panik melalui radionya.

“Go.. kamu gak apa -apa ? .. Go.. ? .. Goo? “

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)