Tunggu Aku, Kakek!

Hal yang tidak kakek tahu bahwa orang yang datang kerumah pengacara tersebut memaksa untuk memberikan nama pelapor alias siapa yang bertanggung jawab untuk menaikkan kasus ini beserta bukti-buktinya. Karena takut dengan ancaman tersebut, maka pengacara pun memberikan semuanya, dari bukti serta nama. Kakek pada saat itu memberikan nama palsu. Namun nomer telpon yang digunakan terdeteksi berasal dari daerah Kalimantan. Dari sini pihak jendral bintang empat juga mencari informasi segera tentang setiap hal yang akan terjadi dikalimantan.

Cara kedua kakek yaitu kakek menghubungi semua teman, lalu mengumpulkan koneksi ke media, sebelum dibawa ke meja hijau. Menurut kakek, media adalah cara terakhir kakek, walau kakek tahu media pun beritanya akan segera diturunkan, namun kakek akan memakai cara lain, bagaimana jika ada isu yang bergerak bebas, seperti berita hoax yang memang tidak bisa diterima akal pikiran. Teman-teman kakek membuat kesepakatan akan menghubungi setiap media yang ada, dan berjanji untuk mengirimkan berita tersebut ke setiap media kenalannya.

Berita yang akan kakek kirim ke media adalah bukti kasus yang terjadi pada jendral bintang 4 tersebut. Seperti penggusuran tanah, menghilangnya keluarga penghuni tanah tempat bisnis mereka berlangsung, penggelapan pajak, korupsi dengan penguasa setempat dan lain sebagainya. Bukti sudah terkumpul namun belum bisa dieksekusi. 1 hal terakhir yang harus kakek lakukan adalah pengalihan. Kakek harus membuat jendral tersebut fokus terhadap satu hal, yaitu pengejaran kakek. Dari sini timbul ide, kakek akan berusaha menghancurkan pusat bisnis nya tersebut agar perhatian jendral sudah teralihkan.

Selagi kakek menyusun rencana, aku hanya bisa mendengarkan baik-baik. Aku memang memiliki beberapa ide, namun aku hanya disuruh mempelajari itu semua sampai pada saatnya harus bergerak.

“Kogo, bagaimana permainan pedangmu sekarang?” tanya kakek di pagi hari yang cerah tersebut.

“Setidaknya menghadapai delapan orang, aku tidak akan kesulitan sekarang” jawabku jujur.

“Baiklah, kamu akan mempunyai pengalaman yang tidak mungkin akan kamu lupakan sekarang, kamu akan ikut serta. Awal mulanya kakek hanya ingin kamu hidup Bahagia, namun sepertinya jendral itu tidak akan tenang sampai melenyapkan keluarga kakek. Kamu bersiap, dua hari lagi kita akan eksekusi semuanya.” Kata kakek melanjutkan.

“Siap kek.” Jawabku.

Aku yang memang dari awal tidak punya pengalaman seperti anak SMA lainnya, mempunyai cara berpikir yang berbeda, bahkan bertarung dengan tentara pun sepertinya sudah biasa. Jadi apalagi yang kutakutkan sekarang, keluargaku satu-satunya hanya kakek. Justru sekarang ini, malah aku yang bertanggung jawab terhadap keselamatan kakek. Aku bermeditasi mempersiapkan mental untuk bertempur dua hari lagi.

Hari ini yang kulakukan hanya melatih keahlian pedangku dan senjataku. Sejak pindah awal ke Kalimantan aku sudah berlatih senjata api. Kemampuan ku menggunakan senjata api juga sudah cukup mahir. Namun tetap saja, kakek hanya meminta jangan terlalu banyak mengandalkan senjata, lebih baik asah kemampuan pedang. Karena lebih berguna di pertempuran jarak dekat.

Keesokan harinya, kakek melakukan persiapan atas misi utama kita. Penyerangan terhadap sebuah pabrik yang berkedok sebagai pabrik kertas, Namun memiliki penjagaan sangat ketat sekali. Denah pun ditaruh di meja depanku, aku pun melihat dari mana aku akan menyerang. Disini aku hanya bertugas sebagai pengalihan. Yaitu aku akan membuat lingkungan cukup berisik agar semua orang bisa fokus kearah ku. Dan tugas utamaku hanya berlari cepat untuk berpindah lokasi. Diarea pabrik ini tidak ada ranjau hanya ada pagar yang bisa dipanjat. Mereka hanya menaruh orang banyak untuk berjaga, namun agar terlihat seperti pabrik biasa, Mereka rata-rata hanya membawa pistol sebagai senjata yang berjaga diluar. Dan untuk yang didalam baru senapan mesin yang mereka gunakan. Setidaknya jika menghadapi pistol, aku masih dapat berlari dibanding senapan mesin.

Kakek akan melakukan pemantauan untuk terakhir kalinya, siang ini kakek mencoba berkunjung kesana lagi untuk terakhir kalinya memastikan tidak ada yang salah dengan rencana ini. Kakek melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sambil mencoba memantau. Tapi ada yang berbeda hari ini, lokasi ini sangat sepi seperti tidak ada orang sama sekali. Pabrik pun terlihat tidak ada yang berjaga dan juga lingkungan sekitar yang sangat tidak biasa.

Ternyata ini adalah perangkap yang telah disiapkan. Seminggu full, pabrik diliburkan hanya penjagaan saja yang tidak. Mereka sudah mendapat informasi sebelumnya bahwa akan ada penyerangan. Penjagaan pun berubah dari yang berjaga hanya di depan Gedung menjadi tersebar secara tersembunyi.

Kakek Langsung mencoba menghubungiku lewat pesan. Pesan kakek yang masuk adalah,

“Kakek kena perangkap. Hubungi toriq.”

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)