Tunggu Aku, Kakek!

Terutama dengan Jendral Toriq ini, dia adalah salah satu diantara 5 orang tersebut, yang merasa sudah disadarkan terutama atas penyalah-gunaan jabatan. Pertemuan ini pun ternyata berlanjut keesokan harinya untuk janjian kembali, karena tujuan utama kakek adalah jalan-jalan maka jendral toriq pun menawarkan diri untuk mengajak berkeliling. Sedangkan keempat lainnya meminta maaf karena tidak bisa pada siang hari namun mengusahakan bertemu pada malam hari.

Seharian penuh kakek bersama teman kakek diajak berkeliling, Kakek pun pernah terlihat memarahi orang yang buang sampah sembarangan, atau motor yang naik trotoar bahkan pengemudi yang tidak menggunakan helm. Kakek bercerita tentang satu hal, seperti membuang sampah sembarangan, Kakek sebenarnya dapat membiarkan orang tersebut semaunya dia untuk membuang sampah sembarangan, namun kakek hanya ingin negara ini mempunyai masa depan yang lebih baik. Jika 1 orang tersebut ditiru oleh orang lain, bisa saja 10 orang lain, dan 10 orang tersebut ditiru oleh orang lain lagi dan begitu seterusnya, Maka buang sampah sembarangan dapat menjadi hal biasa. Bahkan jika banjir tiba, mereka juga yang kena imbas banjirnya, salah siapa hal tersebut terjadi. Dan, kita harus berpikir untuk anak cucu kita, jika kota ini bersih anak cucu kita lah yang menikmati. Berbeda jika kota ini kotor, memang kita mau anak cucu kita mempunyai kota yang isinya sampah semua. Perjalanan seharian tersebut membuat jendral toriq dekat dengan kakek, kakek mendapat teman yang berharga dan jendral toriq mendapat pengalaman yang tiada duanya.

Setiba di bandara setelah bertemu dengan yang menjemput, kita diantar langsung menuju ke kediaman jendral toriq. Kakek disambut dengan hangat didepan rumah beliau, senyum menyertai jendral toriq. Telah lama beliau menantikan kedatangan kakek. Kakek berkunjung ke Sulawesi hanya tiga kali. Pertama saat pertemuan tidak sengaja dengan jendral toriq. Yang kedua, pada saat Akikah anak kedua jendral toriq dan yang ketiga pada saat jendral toriq naik jabatan ke Jendral bintang dua. Bagaikan seperti sahabat lama, kakek pun segera memeluk beliau. Dan jendral toriq segera mempersilahkan masuk. Kakek sudah membahas sebelumnya ditelpon, ini kali pertama aku diperkenalkan dengan jendral toriq. Alamat yang diberikan kakek adalah alamat jendral toriq, karena jika ada terjadi sesuatu dengan kakek, jendral toriq sudah berjanji untuk merawat aku seterusnya. Sepanjang obrolan aku hanya diam mendengarkan, jendral toriq tidak basa-basi langsung to the point, dia memberikan list 5 nama sekolah di Sulawesi lalu meminta kepada ajudannya untuk bergerak mendaftarkan lewat telepon. Untuk masalah biaya pun jendral toriq berjanji mengcover semuanya, kakek sebenarnya merasa tidak enak namun jendral toriq bersikeras melakukan hal ini. Akhirnya kakek coba terima.

Kakek cerita, punya rencana membangun rumah di Kalimantan, yang letaknya agak jauh dari kota, jadi setelah dari Sulawesi kakek langsung bergegas ke Kalimantan. Barang pun sudah dikirim kesana, hanya baju yang dibawa ke Sulawesi. Perjuangan kakek belum berakhir. Jika perang yang jendral bintang 4 ini inginkan maka dia akan mendapatkannya, itulah ucapan terakhir kakek dengan jendral toriq. Yang berikutnya, jendral toriq sudah mempersiapkan tempat tinggal untukku dan kakek selama 2 bulan disetiap kota yang berbeda. Bukan hal susah untuk jendral bintang 2 melakukan hal ini, yang dibutuhkan hanya sebuah telepon dan berikutnya anak buahnya lah yang mengerjakannya.

Setahun berjalan cepat sekali. Dan sekarang aku sudah berada di Kalimantan bersama kakek. Perubahan sangat luar biasa terjadi dengan kakek, kakek merasa harus mengambil tindakan drastis dimana kakek mulai melakukan latihan menembak kembali dan aku yang tadinya hanya menggunakan pedang kayu untuk latihan berubah menjadi katana alias pedang besi. Latihan ku pun ditingkatkan, yang biasanya aku hanya berlatih bersama kakek terkadang aku diajak ke markas pasukan untuk berlatih melawan dua orang atau lebih. Memang hanya babak belur yang kudapatkan setiap sore harinya. Namun aku yakin suatu saat aku pasti bisa melewati itu semua. 6 bulan sejak disulawesi aku sudah dapat mengalahkan 4 orang sekaligus. Bahkan aku yakin aku dapat mengalahkan orang ke 5 jika aku ingin menang namun akan ada resiko cedera.

Sekarang aku sudah berada dikalimantan. Ini jalan terakhir dari peperangan ini. Aku baru menyadari hal ini karena kakek ternyata baru mengatakan bahwa bisnis terbesar dari jendral 4 itu berada disini. Kakek merasa harus langsung menusuk tepat di jantung jendral tersebut. Dan jika dia gugur, dia akan gugur sebagai pejuang. Dia mempersiapkan banyak hal terutama yang aku tidak pernah lihat sebelumnya adalah senjata. Walau tidak banyak, tapi cukup untuk membuat peperangan terjadi. Kakek sepertinya tidak main-main menghadapi hal ini, kakek pun ternyata sudah menulis surat wasiat sebelumnya yang telah diberikan lawyer teman dari jendral toriq. Kakek juga menitip pesan, jika kakek sudah tiada, tolong kamu langsung pesan tiket dan menuju kerumah jendral toriq.

Aku masih terheran lalu mengatakan kepada kakek bahwa kakek tenang saja, tidak hal aneh yang akan terjadi dengan kita.

Aku sudah menginjak kelas 3 SMA, dan selalu melanjutkan latihan pada setiap shubuh. Tubuhku bukan seperti anak SMA, sudah terlihat beberapa luka sayatan di diriku dan juga mungkin gen kakek bercampur di tubuh ini, tubuhku di kelas 3 ini mencapai 185. Cukup tinggi untuk anak SMA. Atau bahkan orang dewasa di Asia. Badanku cukup berisi, karena latihan yang selalu diberikan kakek setiap harinya.

Disela waktunya kakek selalu mencari informasi dan kenalan selagi aku sekolah. Misi yang kakek bawa ini bukanlah misi resmi dan sifatnya melawan individu yang sangat berkuasa, kakek memang tidak sendirian, karena kakek disini beserta beberapa teman yang memang masih kakek percayai, namun teman kakek tidak berani jika harus melakukan misi penyerangan, teman kakek hanya memberikan informasi alias sebagai informan saja.

Selama 6 bulan terakhir kakek terus mengumpulkan informasi untuk mendapatkan bukti-bukti kasus apa saja yang terjadi. Dan bagaimana jendral 4 tersebut bisa melesat menuju posisi nomer 1 sebagai jendral tentara Indonesia. Banyak penemuan kasus yang menghilang jejaknya dan banyak kasus suap dimana-mana. Kakek berhasil mendapatkan semua itu, namun mempunyai masalah membawa hal tersebut ke meja hijau, itu adalah perkara yang sulit.

Awal mulanya, kakek memancing dengan membayar pengacara yang bukti-bukti sudah terkumpul dikirim lewat pos. Pengacara tersebut menerima dan menindak lanjuti. Namun kejadian berikutnya adalah pengacara tersebut menarik kasus tersebut karena pada saat kasus tersebut diangkat, pengacara tersebut langsung mendapat ancaman pada malam harinya. Ancaman tersebut cukup serius karena pada saat itu juga langsung ada orang yang datang untuk memberikan peringatan kerumahnya. Cara pertama gagal. Kakek lalu mencoba cara berikutnya.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)