Tunggu Aku, Kakek!

“Kogo, kakek sudah punya rencana, semoga kamu setuju, kakek akan memasukkan kamu kebeberapa sekolah swasta. Saat ini kita akan nomaden alias pindah tempat terus. 1 sekolah itu akan kamu masuki dua bulan, setelah itu kita harus pindah kembali.”

“Kamu akan sekolah seperti itu selama 5 kali yang pada akhirnya terakhir kita akan pergi ke Kalimantan, Semua barang sudah ada di Kalimantan, namun kita harus menghilangkan jejak kita dahulu. Di sumatera kita sudah tidak aman, Di pulau jawa apalagi, satu-satunya tempat yaitu Sulawesi, disini kamu akan berkeliling sekolah. Alias menyebarkan jejak. Tentunya akan kakek temani. Info detail akan kakek ceritakan setelah kita tiba disulawesi.”

Aku hanya mengangguk dan mencoba memberi semangat kepada kakek.

“Tenang aja kek, kali ini aku juga tidak akan kehilangan kakek, seperti kogo kehilangan nenek”

Jiwa bertempurku yang terdiam dalam diri seperti merekah didalam diri, yang kuhadapi pasti tentara bayaran yang dengan mudahnya punya akses ke berbagai tempat dan persenjataan yang lengkap. Namun aku tidak akan gentar, percuma selama ini kakek melatihku sampai sekarang, jika pada akhirnya menemukan hal di kejadian nyata aku akan ketakutan.

“Bagus. Simpan kewaspadaan kamu seperti ini. Kamu akan butuh itu.” Kakek lalu menepuk bahuku, memberikan topi dan kacamata serta jaket untuk dipakai.

Aku menjadi orang yang mudah curiga terhadap sekeliling, dengan kondisi seperti ini. Konsentrasi ku menjadi sangat tinggi yang menyebabkan aku menjadi cepat Lelah, untunglah semua perjalanan ini berjalan lancar. Aku dan kakek tidak menerima hambatan apapun, sepertinya umpan untuk menjauhkan para pengejar berhasil. Dan kehidupan baru di Sulawesi pun dimulai.

Aku tidak akan menjadi aku yang sama seperti kemarin.

Setibanya disulawesi, kakek menjadi lebih rileks, karena dia tahu bahwa Sulawesi adalah rumah kedua kakek, dahulu kakek memiliki teman yang seperti keluarga sendiri disini, dan memiliki jabatan yang sangat tinggi disini, jadi untuk memasuki wilayah ini, orang lain seperti jendral bintang 4 tersebut pasti akan kesulitan.

Kakek sudah mendapat pesan bahwa nanti setiba di bandara kakek akan dijemput oleh orang kepercayaan dari teman kakek. Nama teman kakek adalah toriq. Jendral Toriq, orang biasa menyebutnya. Sekarang beliau juga sudah sama pensiun namun berbeda dengan kakek, beliau berakhir di bintang 2. Jabatan ini sangat tinggi menilai jasa yang telah dilakukan beliau pun juga banyak. Jendral toriq ini masih bisa tergolong muda, berbeda sekitar 25 tahun dari kakek.

Perkenalan kakek dan teman kakek ini pun awalnya tidak sengaja, singkat cerita kakek pada saat itu sedang berlibur ke sulawesi bersama teman-teman kakek, yang notabene teman-teman kakek masih muda sekitar 35 tahun, dan kakek sendiri berumur 50, menemui sebuah perselisihan dicafe yang pada saat itu sedang hits.

Suatu ketika datang sekelompok pemuda yang notabene tidak ingin mengantri, lalu mengambil tempat yang sebelumnya teman-teman kakek telah menunggu di antrian tersebut. Karena kelompok tersebut memiliki banyak orang , ada sekitar 5 orang, dan berperawakan seperti tentara, maka tidak ada orang yang berani menegur, hanya teman kakek yang lalu menegurnya. Yang akhirnya pada saat itu ternyata terjadi perkelahian, antara 3 orang teman kakek dan 5 orang dari mereka, kakek sendiri tidak ikut campur.

Sampai sekiranya mereka sudah merasa menang, baru kakek datang menghampiri mereka, lalu memperkenalkan diri kakek, menyebutkan nama dan jabatan dan berikutnya kakek bertanya kepada mereka, identitas semuanya. Jika tidak ada yang mengaku, kakek akan panggil polisi militer pada saat itu juga.

Seketika mereka yang sudah merasa menang dalam pertarungan, dan secepat  itu juga merasa kalah dalam peperangan. Mereka mundur teratur, lalu berjalan keluar ditemani kakek. Kakek menunjukkan kartu anggota nya lalu meminta mereka mengeluarkan kartu anggota. Mereka tahu mereka akan mendapatkan hukuman yang berat, karena saat itu posisi kakek sudah perwira senior. Sedangkan mereka baru menjadi perwira menengah.

Namun hal yang terjadi berikutnya adalah kakek hanya meminta mereka berlima tidak akan mengulangi hal yang sama, jabatan seharusnya tidak untuk disalahgunakan. Jadi jangan sampai mereka merasa lebih tinggi dari warga sipil. Tentu hukuman terakhir adalah pushup 100 kali, yang ini sepertinya menjadi penutup yang tidak mereka duga. Kakek menjadi penengah antara 3 orang teman kakek dan mereka berlima. Kakek berkenalan dengan mereka semua karena kakek tahu, bahwa musuh itu gampang dicari namun teman susah didapati. Kakek memang hobi bergaul dengan yang lebih muda mengingat umurnya sudah terbilang tua, namun jiwanya masih sangat muda. Berperawakan sedikit bule pun membuat kakek disenangi banyak orang.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)