Tunggu Aku, Kakek!

Tidak terasa berjalannya waktu, udara pagi yang kuhirup ini adalah udara terakhir di kota ini. Sudah tepat minggu ke empat aku berada di rumah sakit, sekarang kondisiku sudah pulih, dokterpun sudah mengatakan bahwa aku bisa melakukan olahraga ringan. Kaki ku yang patah sudah sembuh pada minggu pertama, aku tidak tahu tapi yang jelas tubuhku ini seperti bisa beradaptasi dan melakukan penyembuhan sendiri. Apa mungkin karena tulang ku sering patah karena latihan berat yang akhirnya meningkatkan kemampuan daya sembuh tubuh ini.

Baiklah hari ini saatnya ku pulang. Aku awalnya belum mengetahui kontroversi yang telah terjadi. Hanya kakek sendiri yang sudah mengetahui nya dengan mencari informasi ke beberapa temannya, dan akhirnya membuat kesimpulan bahwa semakin lama tinggal dikota ini semakin berbahaya.

Hari itu kakek tidak sendiri, terlihat dua orang bersama dirinya, sepertinya tentara juga yang mengawal kakek. Kupikir aku akan pulang kerumah pada saat itu, namun kakek langsung mengatakan hal berbeda.

“Kita akan langsung menuju bandara, kogo dengar kakek baik-baik. Jika terjadi apa-apa dijalan, kogo langsung cari cara apapun menuju bandara. Pesawat jam 12 siang nanti. Kogo harus naik pesawat itu dan menuju alamat ini.”

Aku yang masih belum bisa paham apa yang terjadi, berikutnya  kakek menyerahkan uang cash dan tiket diamplop yang disertai sebuah alamat didalamnya. Melihat aku bingung kakek lalu melanjutkan.

“Kita dalam bahaya go, kakek 2 minggu ini mencari informasi, dan ternyata sepertinya kejadian kecelakaan kamu tidak kebetulan. Ada orang yang merencanakan ini semua dan belum selesai. Kakek akan teruskan cerita ini dijalan.”

Kakek sudah bernada serius yang artinya, hal ini tidak main-main, seketika seluruh otot tubuhku menegang semua. Saat aku memasuki mobil, mobil ini aku tahu bukan mobil kakek yang berarti ini mobil pinjaman. Mobil pun berjalan menjauhi rumah sakit menuju arah bandara. Belom sempat kakek bercerita tiba-tiba salah seorang bodyguard kakek berbicara.

“Kita diikuti Pak. Mobil merah sedan.”

Aku reflek ingin melihat kebelakang tapi tiba-tiba tangan kakek memegang erat tanganku.

“Jangan menengok, nanti mereka tahu bahwa mereka ketahuan dan bisa mengambil tindakan drastis” kata kakek sambil menengok kearahku.

“Kita coba tinggalkan mereka di belokan depan” Kata kakek kepada bodyguard.

“Siap pak.”

Sembari situasi seperti ini terjadi, aku yang masih bingung apa yang terjadi, kakek pun menoleh kearahku lagi dan berbicara.

“Kogo, jangan lupa apa yang kakek katakan dirumah sakit. Kakek tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan tapi jika terpaksa kogo harus pergi sendirian.”

Saat belokan tiba, mobil yang kutumpangi menambah laju kendaraan, awalnya mobil ini memang sudah mengarah menuju bandara, namun karena mudah sekali terbaca lalu mobil ini mengarah tiba-tiba ke stasiun terdekat. Berhenti. Lalu berjalan kembali.

Ternyata hal ini tidak dapat mengecoh mobil belakang yang mana mobil tersebut terus mengikuti dari belakang. Mobil ini melakukan hal yang sama untuk 3 stasiun berikutnya dan lagi-lagi mobil tersebut terus mengikuti.

Namun ada perbedaan kali ini, aku dan kakek turun distasiun ini lebih dahulu, yang artinya kita berhasil mengecoh orang yang mengikuti kita. Pergerakan mobil kita dan mobil belakang memang berlangsung dengan kecepatan tinggi dimana lengah dikit terjadi sesuatu diluar dugaan. Turunnya kita pun juga diluar dugaan mereka karena saat ini kita sudah mengarah menuju bandara dengan menggunakan taksi. Kakek pun sudah berpesan tolong pancing kearah berlawanan karena perjalanan ke bandara pun dikhawatirkan sudah tidak aman.

Kakek meminta supir taksi untuk mensetel music dengan suara agak tinggi agar pembicaraan kita tidak terdengar oleh supir. Lalu kakek bercerita semua kesimpulannya yang didapat di minggu-minggu ini. Aku tidak mengira kakek ternyata memiliki masalah sepelik ini, bayangkan, Jendral No 1 di sebuah negara, melawan sebuah kakek pensiunan. Sudah tahu akhirnya seperti apa bukan, kehilangan nenek adalah awal mulanya. Jendral ini ingin menghabisi seluruh keluarga yang dekat dengan kakek. Aku pun berpikir keras untuk mencari solusi nya, namun, aku awalnya harus beradaptasi dahulu terhadap semua masalah ini. Kakek akhirnya bercerita solusi yang ditawarkan.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)