Tunggu Aku, Kakek!

“Kakek…. Minta.. maaf…. Go”

Suara itu terakhir berbunyi sebelum suara berikutnya yang menandakan radio rusak. Beberapa orang sudah mengelilingi tempat kakek berada. Aku sudah tidak dapat berpikir lagi, aku langsung berlari sekencang mungkin kearah kakek.. aku tidak bisa membayangkan kondisi kakek. Apa yang akan dilakukan para bedebah itu. Aku berlari sejadi- jadinya sampai sekitar beberapa ratus meter aku ledakkan bagian belakang pabrik tersebut.

Dan berikutnya aku habisi semua orang yang berada disekeliling lokasi tempat kakek terakhir. Hanya ada sekitar 10 orang yang berada diluar, dengan senapan mesin aku habisi semua bersamaan dengan meledaknya pabrik tersebut. Misiku berhasil, namun aku tidak menemukan kakek ditempat terakhir. Aku berusaha mencari keberadaan kakek, aku berhasil mendapatkan jejak darah yang kemungkinan besar dari kakek.

Kutelusuri jejak tersebut yang ternyata mengarah kepabrik bagian dalam. Aku tersadar seketika bahwa kakek mencoba untuk berusaha membantu aku dengan cara menyusul kedalam. Aku tidak tahu hal tersebut, yang aku lakukan dari tadi hanya fokus terhadap misi.

Penyesalan ku begitu dalam, aku menangis sejadi- jadinya.

“Kogo minta maaf kek….. Kogo pikir kakek bisa menunggu kogo….. Maafin kogo kek.”

Aku terisak penuh penyesalan. Aku masih berpikir kenapa harus menyelesaikan misi ini kenapa aku tidak fokus menolong kakek, banyak penyesalan terjadi. Lima menit aku terdiam hanya memeluk tubuh kakek yang sudah tidak bernyawa lagi. Aku akhirnya makin lama tersadar, tangisan dan penyesalan ini tidak akan membuat kakek hidup kembali.

Aku lalu membawa kakek pergi menuju mobil yang masih diparkir, aku merasa masih tidak aman disini. Aku menyalakan mobil lalu segera pergi kerumah dan mengabari jendral toriq.

Aku hanya menulis tiga kalimat.

“Misi berhasil. Kakek tewas. Send the news”

Pada saat ini sudah pukul 4 pagi. Dirumah hanya ada dua misiku. Mengeluarkan peluru dari tangan lalu mempersiapkan kuburan yang tenang untuk kakek. Setelah aku mencoba mengeluarkan peluru dengan paksa, aku menjahit Lukaku seadanya. Setelah ini aku langsung pingsan.

Pukul 11 aku terbangun, tangan sebelah kiri masih mati rasa. Belum bisa kugunakan. Aku meminta tolong kembali kepada jendral toriq untuk meminta tolong teamnya datang dan membantu menggali kuburan untuk kakek dibelakang rumah ini. Dia mengirim dua orang kembali. Mungkin yang sama seperti yang sebelumnya. Setelah menggali kubur aku langsung memandikan kakek, lalu bersiap menguburkannya.

Aku mendapat berita terbaru dari pasukan tersebut, bahwa jendral bintang empat tersebut saat ini sedang memerintahkan pasukannya untuk mencari keberadaan kakekku dan diriku. Akan mendapat imbalan yang sangat besar jika berhasil menemukanku. Namun teman-teman kakek yang informan berhasil mengecohkan berita keberadaanku agar aku sulit ditemukan.  

Disela-sela berita tersebut, ditelevisi beredar berita bahwa jendral tersebut memiliki rencana untuk menggulingkan pemerintahan, dan saat ini sedang dalam tahap pengawasan. Inilah berita hoax yang akan diblowup demi mengalihkan perhatian jendral bintang empat tersebut, dan terbukti cara ini berhasil. Berita ini menutupi kenyataan, dimana ternyata ada berita kedua yang dikirim ke pihak media yaitu bukti nyata pekerjaan kotor sang jendral yang akhirnya menjadi bukti yang digunakan untuk meringkus jendral tersebut. Hanya beberapa komandan tentara saja yang mendapat update berita tentang ini. Dan hanya beberapa jam saja jendral tersebut sudah dicekal tidak bisa bepergian keluar negeri oleh pemerintah. Dan tidak lama beberapa jam setelah itu Jendral bintang 4 tersebut sudah menjadi status tersangka karena berbagai perbuatannya yang sudah harus segera diselidiki.

Keesokan harinya, jabatan tertinggi tentara sudah tidak lagi dipegang jendral bintang 4 itu.

Jendral toriq sudah menghubungiku lewat telponnya di pagi hari, dia menanyakan dan memberi tahu bahwa dia siap menyambut kedatanganku dirumahnya.

Suara hutan ini sangat sepi, aku melamun mengingat setiap kejadian yang telah terjadi, Kakekku adalah orang yang paling Tangguh yang sampai saat terakhirnya dia tidak meminta bantuan kepadaku juga. Aku sangat tersadar hal yang paling menyakitkan adalah tidak bisa melindungi orang yang sangat kamu cintai. Mungkin itu yang kupikirkan. Tapi saat aku berpikir dari sudut pandang kakek, kakek selalu berusaha mengatakan kepadaku agar dapat menyelesaikan misi ini, sepertinya agar hidupku berikutnya tidak akan dihantui masalah yang kakek bawa. Aku sebenarnya sudah cukup dewasa untuk mengerti ini semua, namun mengapa ini sangat menyakitkan.

Air mata ini perlahan mulai menetes. Dada ini sangat sesak mengingat mereka berdua. Aku masih melihat foto aku dengan kakek dan nenek pada saat liburan terakhir. Lalu teringat setiap kenangan baik dan buruk yang sudah kita lalui. Satu jam sudah aku luapkan semua perasaan yang sudah mengumpul penuh didadaku.

Doaku terakhir, Aku hanya berharap saat ini kakek masih menungguku.

Kali ini mungkin bukan didunia, melainkan di surgaNya.

Dejournal Imam.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)