Tunggu Aku, Kakek!

“997… 998.. 999… 1000.. hufhh hufhh huffhhh”

Pagi ini masih sangat gelap, sekitar pukul 05.00 dan aku berada ditengah hutan didaerah Kalimantan. Aku sedang melakukan kebiasaan latihanku setiap hari. Hanya pepohonan dan rumah kecil yang sengaja di buat secara sederhana agar bisa menampung keluargaku. Aku masih berstatus pelajar kelas 3 SMA, yang sekarang berumur 18 tahun. Pada Kelas 1 SMA, Aku pernah terlibat kecelakaan mobil yang hampir menghilangkan nyawaku, yang akhirnya aku masih harus break selama 6 bulan untuk rehabilitasi yang akhirnya tinggal kelas.

Nama aku adalah kogo. Kogo shiraishi. Mirip nama jepang bukan, tapi tidak ada satupun yang berdarah jepang di keluargaku. Kakekku sebetulnya asli belanda, yang ternyata jatuh cinta dengan nenekku yang asli Indonesia. Setelah diperkenalkan dan mengenal sudut pandang nenekku, kakekku pun memutuskan tinggal di Indonesia bersama nenek. Kakekku adalah seorang petualang, dan dia juga seorang tentara. Jika memiliki waktu kosong pada masa muda nya, dia lebih memilih untuk mengunjungi negara-negara lain di ASIA. Dan ternyata dia punya tempat favorit yaitu Jepang. Dia melihat dan mengagumi sudut pandang orang jepang yang memang sangat disiplin dan termasuk kehebatan jiwa samurai yang berada di negara tersebut. Maka dari itu muncullah sebuah ide bahwa jika dia memiliki keluarga, maka haruslah sedisiplin seperti samurai dari jepang.

Itulah awal mula aku dikenalkan dengan beladiri jepang, Kendo, dan jujutsu. Perbedaannya adalah kakek mempelajari langsung dari sana, namun dia tidak menggunakan shinai sebagai pedangnya, lebih menggunakan boken alias pedang kayu yang menyerupai katana. Kakek memulai latihan ku sewaktu umurku 7 tahun. Latihan dengan kakek tidak berat awalnya, aku diharuskan melakukan Gerakan mengayun boken atau pedang kayu sebanyak 50 kali setiap hari. Dan untuk latihan jujutsu, aku langsung berduel dengan beliau. Karena menurut beliau, Beladiri yang baik adalah yang menggunakan tubuh sebagai pengingat cara kita bertempur. Jadi pada umur segitu aku sudah diharuskan mengenal matras untuk siap dibanting.

Aku ingat pada mulanya kakek hanya bercanda denganku namun seiring berjalannya waktu, setiap kali latihan aku pasti menangis dibuatnya. Dan pasti akan ada bengkak di suatu area di badan. Hanya nenek yang pada saat itu selalu berusaha menyemangatiku dengan cara membuat makanan enak, ataupun memijit ditempat yang bengkak. Nenek ku pun ternyata bukan sembarang orang, dia adalah perawat yang menyelesaikan masa jabatannya demi negara setelah menikah dengan kakek. Karena menurut beliau, pengabdian seorang istri terhadap suami lebih penting daripada bekerja sebagai perawat. Dan masa tugas lebih dari 7 tahun pun sudah cukup, apalagi fakta bahwa negara telah merdeka pada saat itu membulatkan tekad nenek hanya untuk menjadi istri kakek saja. Nenek mendapatkan Pendidikan sebagai perawat dimedan perang, jadi ketangkasan nenek dalam hal medis sudah sangat teruji, terkadang, nenek bisa lebih cekatan dari dokter pada zamannya.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)