September Horor-ku

“Hi kak, Are you okay?”

Dia melihat kewajah ku lalu mencoba tersenyum sebisanya.

“Halo do, im okay, Cuma sedikit ga percaya aja kalau semua ini kejadian nyata. Udah cukup lah gw nangisnya, gw capek, ini mau makan. Laper gak lu”. Dia menjawab.

“Iyaa ni kantin buka karena jadi rame gini, diminta tolong guru buka karena kita belom pada makan siang kan ?” Aku membalas.

“Iyaah.” Dia menjawab namun dengan sedikit teringat kejadian bahwa raisa sudah tidak ada lagi.

“ Btw, kak, mau tanya, tentang semalam si, tapi kalau gak mau jawab juga gpp”.

Dia melihat gw dengan raut muka serius, lalu berkata.

“kalo tentang raisa gw gak bisa jawab. Gw juga gak tau apa-apa tentang dia hilangnya semalam.” Dia menjelaskan.

“Ngga kok, Cuma nanya kejadian kemaren aja, denger-denger nih, katanya kemarin berdua ya waktu jaga junior sama kak raisa, terus sempet pergi sebentar gak lama balik lagi?” aku mencoba to the point.

Kak Risma mencoba berpikir keras menjawab pertanyaan tersebut. Tidak lama jawaban tersebut keluar.

“Jadi gini do, sebelumnya belom ada yang gw ceritain ini, bahkan gw sendiri gak berani inget-inget lagi. Kemarin lu tau sendiri gw ditugasin jagain kamar mandi atas sama raisa, sebetulnya dia yang disuruh, karena gw ada kerjaan lain, tapi gw mau nemenin aja. Jadi lah gw berdua sama raisa jaga diatas.”

Dia menjeda sebentar ceritanya.

“Awalnya baik-baik saja. 10 menit harusnya cepat. Kamar mandi kan ada diujung Lorong timur, jadi harusnya masih dekat sama yang standby diatas juga. Tapi tiba-tiba ntah kenapa perasaan gw jadi tidak nyaman, berasa kayak lagi dilihatin orang. Gw coba cek lihat kiri kanan, aman tidak ada yang aneh, tapi waktu lihat depan, yang Lorong mengarah ke Gudang itu, disitu gw langsung ngerasa takut banget. Berasa kayak ada sesuatu yang melihat kearah gw juga, padahal gw tau disitu tidak ada apa apa”.

“Gw coba meyakinkan raisa, gw bilang, perasaan gw gak enak nih, cabut yok, ajak junior aja udahan. Kata raisa, kalau gw tidak enak badan, langsung kebawah aja, nanti dia menyusul. Alhasil, karena gw udah gak kuat, gw merasa takut, gw memutuskan kebawah duluan, karena menurut gw, raisa orang nya pemberani banget. Tidak lama setelah gw pergi, gw merasa bahwa gw pergi itu adalah langkah yang salah karena sebenarnya gw justru malah membiarkan dia sendirian diatas dan hanya berdua dengan junior yang berada dalam kamar mandi.”
“Saat gw beranjak kembali ketempat, gw mendengar teriakan dari dalam kamar mandi, dan raisa masih terduduk didepan tanpa beranjak sedikitpun walau sudah mendengar teriakan sekencang itu. Cuma gw masih tidak merasakan hal yang aneh, karena selanjutnya yang gw lihat, raisa tertidur. Dan pada saat temen-temen membopong junior pun gw masih belum merasakan keanehan, dia hanya lebih banyak terdiam. Hanya mengangguk dan menggeleng. Pikir gw saat itu, dia merasa bersalah karena terjadi sesuatu sama junior dan dia malah tertidur.. Dan keanehan baru terasa saat kita ingin tidur. Selama ini gw Cuma berkomunikasi setelah kejadian dan sebelum tidur karena gw lebih banyak di uks.

Yang menurut gw aneh adalah kenyataan bahwa Raisa cuma mengangguk dan menggeleng sama seperti setelah kejadian, dia pun tidak menjawab atau berbicara sedikitpun, respon ini yang membuat gw berpikir apakah ada yang salah dengan raisa, tapi gw memutuskan besok gw akan bertanya langsung ke dia karena pada saat itu kita sudah siap untuk tidur. “ Dia menjeda ceritanya.

“namun kenyataannya, gw gak bisa melihat dia lagi”

Air mata Risma terlihat kembali.

“Ehm, maaf ya kak, jadi bikin teringat lagi.” Aku mencoba meminta maaf karena telah mengungkit.

“Iya gak apa- apa do. Thanks ya dah mau dengerin. Btw kemarin katanya sempat ada kejadian aneh juga ya ?” Dia bertanya kembali.

“iya sih, tapi yakin mau dengerin?” Aku menjawab lalu bertanya kembali.

“ceritain deh biar ga penasaran”. DIa menjawab.

Aku ceritakan semuanya dari awal sampai akhir, dan dia hanya mendengarkan.

Di akhir cerita aku mengucapkan turut berduka cita, dan mungkin memang ini takdirnya, dan mendoakan dia selalu tabah serta selalu mendoakan almarhumah agar bisa tenang dialam  sana.

Aku kembali berkumpul bersama leo dan rendy untuk menceritakan apa yang barusan aku dengar. Tidak lama setelah cerita, kita diminta guru untuk berkumpul dan diminta untuk pulang ke rumah masing- masing. Sekolah akan libur selama 3 hari, 3 hari kedepan dari hari ini. Panitia pun bubar dan kita hanya berucap salam kepada senior dan juga kak risma.

Ketika aku masuk kembali pada hari kamis, sekolah telah mengalami perubahan. Ruangan Gudang olahraga itupun diruntuhkan. Tidak ada lagi ruangan diujung, setiap ruangan akan dipasangi penerangan dan tidak ada lagi acara malam sampai jam 2. Hanya diperbolehkan sampai jam 11 batas waktu maksimal. Yang paling membuat ku terkejut adalah, kak risma.

Dia pindah sekolah. Semua proses pemindahan dirinya tidak ada yang tahu. Banyak kabar antara dia merasa bersalah atau dia merasa takut akan jadi korban berikutnya.

Yang aku tahu ternyata ucapan salam terakhir pada bulan September ini pun juga membuat berakhirnya hubungan kita antar sesama junior dan senior. Tidak ada lagi senyuman yang bisa kutemui, atau bahkan aku masih mempertanyakan apakah dia bisa tetap tersenyum seperti sebelumnya.

Entahlah, Semoga kak risma bisa mengikhlaskan sahabatnya dan bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang.

-FIN. DejournalImam.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)