Rumah Nenek

“BRAK…” suara pintu itu terdengar sangat keras.

“Woi dedemit, kalau berani jangan gangguin gw doang, gangguin tetangga gw juga sana” Suara gw terdengar membalas suara pintu itu.

Gw tau ga akan dibalas juga suara gw, tapi setidaknya gw harus bikin rasa merinding ini bisa hilang.

4 hours before.

“Fi, Sepertinya kita akan menginap dirumah nenek malam ini, nenek sakit dan sedang dirawat dirumah sakit. Nanti papa akan drop km di rumah nenek trus papah akan mengantar mama dulu ke rumah sakit baru papa pulang” Suara papa gw membuat mood gw yang lumayan cerah di sore ini dari pulang sekolah berantakan tiba”.

“Yah pah, rumah nenek kan sepi banget, mana gede banget lagi. Dan besok juga aku ada latihan taekwondo sore nya.” Jawab gw berasalan agar tidak berangkat. 

“Masa nenek sakit kamu masih kepikiran latihan si. Dan lagipula, blackbelt masa takut setan. Malu sama sabuk kamu. Kamu siap siap packing sana kemungkinan kita sampai hari minggu pagi disana. Tidak latihan sehari ga masalah harusnya. Kamu bawa PS 4 kamu aja biar ga bosen disana” Suara papa yang terdengar tegas menandakan bahwa 100 persen gw pasti berangkat sore ini.

Lokasi rumah nenek gw berada di bogor, daerah darmaga bagian pinggirannya, perkiraan waktu tiba jika berangkat sehabis maghrib adalah pukul 8. Namun jika kondisi jalanan macet seharusnya pukul 9. Dan benar saja Jalanan tol penuh dengan kendaraan orang yang ingin berlibur pada hari jumat ini. Dalam hati gw , Ini mah bisa sampai jam 9 lewat.

Ternyata omongan tersebut adalah doa, kita sampai 3 jam, jam 9.30 malam tiba dirumah nenek. Rumah nenek sepi tidak terdapat orang, kemungkinan semua orang berada dirumah sakit untuk bergantian menunggu nenek.

Gw lupa kenyataan bahwa tukang kebun nenek sudah tidak bekerja lagi dan yang tinggal bersama nenek hanya seorang asisten rumah tangga nenek yang umurnya juga terbilang tidak muda lagi.

“Mbok yum kayaknya lagi ke rumah sakit. Tadi waktu mamah telfon katanya kunci ditinggal dibawah pot dekat pagar, coba cek fi” Pinta mama.

“Nih mah, ketemu. Jadi gimana ni rencananya ? Aku ikut aja kerumah sakit ?” Tanya gw berharap gw tidak ditinggalin sendiri.

“Kayaknya kalau kebanyakan orang gak boleh masuk nanti, kamu tunggu papa disini aja. Papa cepet kok Cuma nganter mama doang nengok nenek setelah itu pulang.”

“Oke Pah” Jawab gw lemes.

Setelah gw menaruh tas dan koper dikamar, gw menyalakan semua lampu yang berada di lantai 1 rumah ini. Rumah nenek gw tergolong luas, memiliki dua lantai, dan sebelas kamar, lebih banyak kamar tamu. Karena saudara dari papa ada 8 keluarga yang sudah tersebar ke kota besar lainnya. Rumah ini biasanya berfungsi maksimal pada saat lebaran dan Hari besar lainnya. Lima belas menit berselang tepat nya pukul 10 malam, papa dan mama beranjak menuju mobil untuk berangkat ke rumah sakit.

“Kamu kunci pintunya fi, nanti papa kabarin kalau sudah sampai.” Pesan papa dari dalam mobil.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)