Dia dan Bandara.

Jadwal pun dibuat dan diputuskan hari jumat keluarga fai datang kerumah. Keluarga mila pun bersiap semua, semua hal dilakukan diam diam dimana yang mempersiapkan semuanya adalah keluarga dari tantenya mila. Siang hari setelah shalat jumat mila pun diculik rosy dengan alasan dia butuh belanja sesuatu di sebuah mall yang ada di ibukota. Berangkatlah siang itu mila dan rosy. Rosy harus memastikan bahwa mila pulang setelah isya, dan tidak boleh sebelum itu. Saat itu Rosy pun berhasil.

Tanpa mila sadari, acara perkenalan keluarga pun berjalan lancar. Pada sore hari keluarga fai datang, makanan telah dipersiapkan dan dibawa dari rumah tantenya mila, hanya butuh waktu satu jam untuk keluarga mila mempersiapkan semuanya. Karena keluarga mila memiliki banyak kerabat maka bala bantuan pun datang dari tetangga di lingkungannya.

Acara perkenalan dari keluarga fai pun, hanya om dan tante nya yang berada di ibukota yang datang. Itu pun sudah lumayan cukup memenuhi ruangan tengah rumah mila.

Dan satu orang dari sekian yang tidak tahu akan adanya acara ini hanyalah mila sendiri.

Pada hari jumat pun rencana keluarga fai tidak hanya perkenalan keluarga saja, namun kedatangannya dengan maksud untuk langsung melamar. Dikeluarkanlah hantaran dan mahar untuk keluarga mila. Dan keseriusan ini disambut positif oleh keluarga mila, Orang tua mila bersyukur bahwa Fai berada dari keluarga yang memang menjunjung tinggi tata krama dan sopan santun.

Fai pun mendapat respon positif dari keluarga mila, namun papa mila menjawab, bahwa yang akan memutuskan untuk menerima pinangan adalah mila sendiri.

Namun kedua keluarga sepakat jika mila memang menerima pinangan ini, maka tanggal pernikahan pun sudah ditetapkan. Yang pada saat itu jatuh pada bulan desember.

Untuk mencari jawaban dari mila sendiri, Fai pun mengusulkan saran yang akhirnya menjadi sebuah acting antara fai dan papa mila itu sendiri.

Fai hanya berusaha ingin meyakinkan kepada orang tua mila bahwa fai adalah pilihan dari mila dan memang bukan sebuah paksaan. Dan terbukti berhasil.

Semua yang terjadi sekarang sekali lagi harus berterimakasih kepada Rosy, yang bahkan mila pun tidak sadar bahwa rosy berada di meja salah satu coffee shop yang berada di ruangan indoor.

Rosy datang dengan kedua orang tua mila, mamanya menunggu didalam bersama rosy, dan papanya ada diluar.

Semua konsep ini tereksekusi dengan sangat baik, yang jika dipikir ada bakat juga kali gw ya jadi produser film.

Namun hal berikutnya yang terjadi adalah, mila ngambek, dia langsung berlari meninggalkan gw dan papanya. Damn.. Pake drama lagi.

Gw Cuma bisa bilang “Om, Saya kejar dulu ya”, papa nya hanya mengangguk.

Setelah tahu kenyataan tersebut mila pasti merasa dibohongi, tidak hanya dengan teman baiknya sendiri bahkan keluarga nya juga.

“MILA..” gw berteriak memanggil dia.

Gw lupa bahwa gw saat itu berada dibandara, kontan orang sekitarnya langsung menoleh ke arah gw.

Yang gw pikirin bodo amat, pada nonton deh lu.. rasain yang jomblo.

Gw bergegas memegang tangannya dia yang langsung dia paksa untuk dilepas.. tapi genggaman gw tidak lepas sedikitpun. Dia pun berteriak marah,

“Lepasin gak? Atau gw teriak nih.”

Gw tahu saat itu juga dia sedang emosi setinggi tingginya. Dan berikutnya yang udah berasa sinetron adalah, gw langsung menarik badannya memeluk dirinya dan gw bilang.

“Maafin aku wahai calon istriku, aku tidak ingin bersandiwara seperti ini, kamu serasa menghindari aku saat kepulangan ku kemarin, yang aku bisa lakukan  hanya rencana seperti ini. Niat dari hati aku, aku hanya ingin minta izin papa mu agar kita menikah dan selesai”

“Kamu jahat, bisa bisanya dari semua orang yang tidak tahu hal ini cuma aku doang. Lagian emang aku mau sama kamu?” Dia masih marah. Gw masih memeluk dia sambil berbicara,

“Sekali lagi aku minta maaf ya, aku tahu aku ga punya waktu banyak, emang dipikir kemaren aku jalan jalan disini, aku sibuk tahu nyari hantaran kesana kemari, terus bikin persiapan buat ketemu keluarga kamu, yang nantinya keluarga aku juga. Aamin.  Aku udah berekad, bahwa aku tidak boleh kehilangan kamu, dan aku akan selalu menjaga kamu. Aku ingin kamu menjadi rumahku, tempat ku berpulang ,atau…. Bandaraku, tempat yang ku selalu ingat dimana aku dan kamu selalu bertemu. Yang jelas bandara ini menjadi saksi bahwa kita tidak akan pernah tahu dimana nanti kita bisa bertemu dengan jodoh kita”

Gw melanjutkan..

“Once again, I will ask you the question” Masih sambil memeluknya gw mengambil cincin dari saku kanan gw.

“Will You Marry Me ? “ Gw menatap mata dia dalam – dalam, dan dia menjawab.

“Yes, I DO.” Mila tersenyum. Sebuah senyuman itu yang amat sangat ku tunggu. Dan selamanya akan selalu aku kenang hari ini. Di bandara tempat pertama kali kita bertemu dan tempat pertama kali kita memulai sebuah komitmen untuk mengarungi rumah tangga bersama.

Ditulis oleh : Cahyo Imam Prabowo. (Dejournal Imam)

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)