Dia dan Bandara.

“Maaf Fai, aku tidak bermaksud untuk menolak walau aku bertindak seperti ini, aku Cuma ingin memberitahu apapun keputusannya, itu akan keluar dari mulut ayahku. Aku tidak bisa berkata iya juga karena walau dari dalam hati ini aku sangat Bahagia, aku masih merasa bahwa ini semua tidak nyata.” Dia melanjutkan.

“Terima kasih untuk semua hal seperti ini, ini pasti ga akan terlupakan dari hidup aku, Maaf buat segala-galanya” Dia beranjak dari kursi sambil mencoba menahan air mata, namun terdengar seseorang memanggil Namanya.

“Mila ??”

“Pa.. Papa ? Kok Papa disini ?” suara Mila terdengar takut terjadi hal salah paham.

“Kamu habis menangis ? Ini siapa ? “ Papa nya pun terus bertanya.

Mila mencoba menjelaskan,

“Ini Fai pa, teman mila. Tadi Mila udah pamitan pergi sama dia. Mila mau pulang”

“Sebentar sebentar, papa pengen kamu jawab jujur dulu ini ada apa, kamu kenapa terlihat menangis seperti itu, memang fai yang buat kamu menangis” Papa nya terus mencecer mila. Papa nya mila sebetulnya bukan orang yang galak namun memiliki sikap yang sangat tegas.

Mila hanya tidak ingin semua kenangan tentang fai menjadi kenangan buruk karena kesalah pahaman ini. Disaat mila kebingungan justru gw lah yang berbicara.

“Sore om, saya fai temennya mila. Sudah kenal sekitar setahun. Dan minggu ini kepulangan saya ke Ibukota, dan saya mencoba meminta waktu mila untuk bertemu hari ini. Mila pun menyetujuinya dan saya mencoba melamarnya barusan.” Gw menjelaskan dengan cepat.

“Dan yang seperti om lihat, Mila menolak lamaran saya, dan tadi mila sempat bercerita apapun yang terjadi, keputusan dari om lah yang akan menentukan siapa yang akan menjadi pasangan dari mila kemudian hari nya. Maka dari itu saya memberanikan diri, jika memang berkenan, bolehkah saya melamar anak om”.

Mila hanya menunduk menunggu tanggapan dari papa nya. Dan berikutnya momen yang terjadi diluar dugaan.

“TIDAK BISA. Seharusnya jika kamu mempunyai tata krama yang baik, kamu menghadap ke keluarga mila terlebih dahulu, bukan dengan cara anak remaja seperti ini. Dan saat ini mila sudah mempunyai pasangan. Ayo mila, kita pulang” terlihat papa nya mila langsung memegang tangan mila untuk pergi dari tempat tersebut. Dan gw pun hanya diam seribu Bahasa sambil kembali duduk di coffee shop tempat kedua gw dan dia bertemu.

Mila sudah makin terisak, dia menyadari bahwa takdir di kehidupannya telah ditetapkan, dia akan melupakan seorang rifai dan mencoba untuk mencintai jodoh nya yang baru ini walau dia tidak kenal sama sekali.

Sembari jalan dia terus terisak dan papanya tiba tiba berbicara.

“Buat apa papa melepas kamu sama orang yang bikin kamu menangis, dia tidak akan bisa sampai kapanpun untuk membahagiakan kamu”

Mila merupakan anak yang penurut namun titik kesedihan dirinya saat ini adalah yang paling tinggi, dia menumpahkan segalanya dalam bentuk tangisan dan dia masih tetap mencoba berbicara sambil terbata,

“Fai ga pernah salah apa apa pah…… Mila sayang Fai….. Mila kagum dengan Fai… yang punya mimpi… yang berusaha terus mengejar mimpinya….. Mila hanya sedih…. di hidup mila yang Cuma sekali ini…. mila seakan akan tidak bisa memutuskan….. tentang masa depan mila sendiri.”

Mila terus terisak menangis tersedu sedu.. dan melanjutkan,

“Namun mila tahu, seberapa besar rasa yang mila miliki… mila harus menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua… apapun keputusan yang papa punya….. mila akan turuti… walaupun, menikah… dengan orang yang tidak mila kenal…. mila serahkan semuanya ketangan papa” mila langsung nangis sejadi jadinya.

Kesedihan yang dia alami sudah memuncak, dia hanya berharap dia bisa pulang dengan segera.

Papanya melihat mila lalu memeluknya.

“Mila, papa sayang sama mila, mila juga sayang papa kan?” papa nya melakukan pertanyaan yang hanya dijawab dengan anggukan. Papanya melanjutkan.

“Jika papa memberikan pilihan ke mila, apakah mila yakin bahwa mila akan memilih fai?”

Mila hanya terdiam.

“Papa ulang lagi, Apa mila yakin mila akan Bahagia dengan fai?”

Kali ini mila berusaha menjawab.

“Jika memang mila boleh menjawab, mila yakin insya Allah, mila akan Bahagia dengan fai” Jawab mila.

“Mila tahu bahwa tanggal pernikahan mila sudah ditetapkan ?” kata papa.

Mila langsung teringat akan orang yang dijodohkan dengan dirinya, kemudian dia mulai terisak kembali.

“Iya pah, apapun yang papah mau mila akan ikuti” jawab mila.

“Sepertinya kamu salah faham, tanggal pernikahan yang papa maksud tanggal pernikahan kamu dengan fai” kata papanya.

Mila dengan sedikit kebingungan dan sudah mulai berhenti menangis mencoba mencerna omongan papanya tersebut.

“Papa ngomong apa ya, mila bingung.”

“biar Fai yang cerita dahulu, yuk kita kesana, dia sepertinya masih ada ditempat tadi”

Gw yang masih berada di coffee shop melihat kembali kedatangan mila dan papanya, sambil memesankan kembali minuman. Saat mereka telah duduk, gw langsung berbicara.

“Sepertinya ini saatnya aku cerita ya, ini semua adalah ide tergila yang ku miliki dan alhasil aku harus berterimakasih sama rosy. Dia teman terbaikmu mil.” Kata aku memulai semua ceritanya

“hah, maksudnya gimana ?” Mila bingung dengan apa yang sudah terjadi. Dan dia mencoba mendengarkan penjelasan dari gw.

Kejadian ini terjadi saat kedatangan gw ke ibukota, gw yang kebingungan dengan apa yang gw lakukan saat itu bertemu dengan rosy, setelah diceritakan segala hal, dan gw mendapat nomer telfonnya, yang pada saat itu langsung gw contact untuk mendapatkan bantuan agar mila membalas pesan gw. Itu langkah pertama gw yang gw rencanakan.

Langkah kedua yang menurut gw berani adalah pada saat malam menjelang tiba, di hari kedatangan gw, gw mengumpulkan keluarga gw dengan alasan gw akan membagikan oleh oleh, terbukti langkah itu berhasil lalu dengan santainya gw mengatakan bahwa gw akan menikah, gw sudah menemukan jodoh tapi penolakan mungkin bisa saja terjadi.
Gw harap keluarga gw siap mendengar cerita berikutnya bahwa dalam hal ini gw punya saingan karena seseorang tersebut adalah orang yang telah dijodohkan oleh orang tuanya. Mama Papa diam seribu Bahasa, gw yang ga pernah memperkenalkan perempuan tiba tiba pulang dengan berita akan menikah. Well done fai. You already give a little heart attack for your parents.

Gw membiarkan orang tua gw untuk memproses cerita gw semuanya dari awal setahun lalu, dan gw tidak akan membahas ini sampai seminggu kedepan, ternyata rencana gw salah. Orang tua gw tidak main-main menanggapi hal ini, mereka langsung mengajak gw duduk bersama diruang tengah keesokan harinya, lalu membicarakan segala macam yang berurusan dengan pernikahan, salah satunya adalah mahar dan hantaran.

Minggu ini adalah minggu tersibuk gw, karena seminggu ini gw full menemani mama gw mencari hantaran dan tidak lupa cincin lamaran. Gw sudah membuat janji pada hari sabtu dengan mila, dan gw utarakan juga sebisa mungkin, sebelum hari itu, keluarga gw, sudah harus bertemu dengan keluarga mila. What a crazy plan. Anaknya aja belom tentu setuju, ini gw langsung mencoba ketemu orang tuanya.

Dan disinilah peran yang sangat penting dari rosy. Segala macam rencana gw, gw ceritakan ke rosy. Rosy lah yang dengan sengaja main beberapa kali kerumah mila hanya ingin bercerita kepada orang tua mila. Bagaimana kondisi anak nya saat ini, sampai berita bahwa akan ada seseorang yang akan melamar mila, namun semua itu tanpa sepengetahuan oleh mila itu sendiri.

Mila tidak merasa heran jika rosy main kerumah dan mengobrol dengan orang tuanya. Percakapan tentang jodohnya yang ingin datang tersebut, ternyata mendapat respon positif dari orang tua mila, setelah mendapat cerita dari rosy, orang tua mila pun akhirnya mencoba memberi kesempatan kepada si calon yaitu gw, untuk datang terlebih dahulu dan berkenalan antar sesama keluarga.

Hal Ini diperbolehkan walaupun papa mila sudah menjodohkan mila, namun lamaran dari keluarga pihak laki laki belum datang kepada keluarga mila, jadi sah sah saja jika memang ada orang lain yang akan masuk terlebih dahulu. Dan pula, papa nya beranggapan bahwa lebih baik mila menikah dengan pilihannya sendiri.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)