Dia dan Bandara.

“ Hi mil, Are you there? Gw lagi menuju tempat kita pernah makan disini nih. Did you remember it ?”
Dan ternyata langsung dibalas saat itu juga.

“Blok S ?”

“yup. Anw, Do you want to share that story to me ?” gw langsung bertanya langsung.

“ Rosy udah cerita semuanya kayanya. Mau story apa memangnya?”

“Gw minta maaf jika dalam bulan terakhir gw jarang menghubungi, namun ternyata saat gw mendapatkan waktu sepertinya sudah terlambat.” Gw mencoba membuka omongan.

“Emm, kan 2 minggu ini gw lagi dijakarta. Boleh gak minta 1 hari untuk ketemu. Ga usah jauh jauh, dibandara aja gimana ? tempat ngopi yang waktu gw berangkat ke singapura” lanjut gw.

“ Sepertinya tidak bisa deh” mila menjawab dengan datar.

“Masa gw harus memohon seperti gw yang waktu itu terlambat sih. Please mil, 1 hari aja. Give me one day, and I explain everythings. Just one day, it will be enough for me and for our story” Gw mencoba meyakinkan.

Mila diam sejenak mencoba berpikir. Sepertinya dia juga merasa harus mengakhiri semuanya dengan damai.

“Oke, Sabtu minggu depan ya, jam makan siang.” Akhirnya mila mengalah.

“Siap, Sabtu jam makan siang. Thanks ya mil.”

Seminggu berlalu sangat cepat dan tiba pada saat hari sabtu pagi. Rencana berjalan lancar tidak ada hambatan yang berarti, tidak seperti tahun sebelumnya dimana ada aja kejadian aneh yang terjadi. Menjelang siang gw sudah memacu mobil menuju bandara.

Di hari sabtu ini, bandara pun sangat penuh, namun Gedung parkir bandara yang baru membuat sebanyak apapun kendaraan yang parkir pasti akan tercukupi tempat parkirnya. Gw parkir di lantai 3, yang langsung berseberangan dengan coffee shop langganan.

Gw sampai lokasi lebih cepat 15 menit, lalu gw memesan kopi favorit dan juga mengobrol dengan sang baristanya, yang bernama ryan. Gw kenal Ryan sudah cukup lama, tepatnya pada awal gw mulai perjalanan bisnis di perusahaan gw. Dan pada saat mulai sering keluar kota lah, coffee shop ini menjadi langganan gw.

Coffee shop ini cukup luas, mempunyai dua bangunan indoor dan outdoor. Namun hari ini tampak berbeda terlihat berbeda dari biasanya. Gw pun merasa jika setahun kepergian gw, ada perubahan yang cukup baru dibeberapa sudut ruangannya.

Tidak lama selagi mengobrol, mila datang dengan khas pakaian modisnya yang selalu membuat gw berfikir, simple namun menarik. Kita pindah ke bagian outdoor, walau terbilang outdoor, tapi sangat nyaman sekali dan tidak panas, dikelilingi taman membuat lokasi ini terbilang sangat nyaman jika ingin berlama lama. Mila lalu menyebutkan pesanan kopinya, dan gw yang memesankan nya ke ryan.

Percakapan sebetulnya tidak semenarik saat kita berbicara di Blok-S. Mila lebih banyak diam, hampir 90 persen gw cerita apa apa saja yang telah terjadi pada gw selama 1 tahun. Tidak ada senyum seperti waktu kita pertama kali makan. Ataupun saat pertama kali bertemu. Dia lebih memilih lebih banyak mendengarkan. Gw tersadar waktu berjalan sangat cepat, dan mila pun seperti lebih memilih untuk segera beranjak dan pergi dari tempat duduknya.

Jam 15.00 sudah terlihat dari handphoneku, gw putuskan untuk menyudahi pertemuan ini. Jika memang ada kesempatan mungkin kita akan bertemu lagi.

“Aku mau bertanya untuk terakhir kalinya, kamu Bahagia gak sama dia?” gw mencoba mengakhiri hari ini dengan momen yang serius.

“….” Dia tidak menjawab.

“Kalau sama aku?”

“…” Dia juga tidak menjawab. Mungkin dia sudah menduga kearah mana obrolan kali ini.

“Mungkin ini waktu yang terlambat. Tapi tidak ada salahnya jika aku jujur pada diriku sendiri. Sejak awal aku sudah menyukai kamu mil, bahkan sampai saat ini. Saat aku kembali, aku pasti akan kembali kesini, bersama kamu.” Ucapan gw malah membuat dia meneteskan air mata.

“….” Dia tidak berbicara apa – apa namun dia seperti tidak rela mendengar apa yang barusan gw ucapkan. Dia terus terisak dan gw melanjutkan omongan gw.

“Disini pun, ditempat ini, gw pengen coffee shop ini jadi saksi, mungkin ini yang terakhir atau ini yang pertama, tidak ada yang tahu, esok pun belum tentu aku masih ada disini, bisa saja aku sudah tidak ada di dunia ini. Tapi satu yang aku tahu persis, Aku ga akan pernah bisa tanpa kamu. Aku ingin kamu menjadi rumahku, tempat aku kembali dan aku ingin saat pulang selalu bertemu denganmu. Maukah kamu menjadi Istriku?”

Bukan senyuman merekah yang gw dapat kan tapi tangisan sedih yang terdengar, tangisan bahwa semua yang terjadi ini seperti hanya fana, semua ini tidak bisa menjadi nyata, dan semua ini hanya angan angan semata.

Mila semakin terisak mendengarkan lamaranku, dan aku langsung bingung berbuat apa. Namun rencanaku tetaplah bulat. Aku harus melanjutkan hal ini bahkan jika perlu aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan.Dan ga boleh menyerah oleh hal seperti ini.

Datanglah ryan dengan membawa gitarnya duduk didepan kita berdua, menyanyikan akustik lagu Bruno mars, marry you.

“ It is a beautiful night, we’re looking for something dumb to do, Hey baby, I think I wanna marry you”  Suara alunan music yang perlahan membuat mila mencoba membuka matanya yang memang sejak tadi menangis.

Ryan melanjutkan nyanyiannya, yang rencana ini sebelumnya memang sudah kurencanakan sejak kemarin.

Kemarin sore :

“Bro, whazzup bro? masih di coffee shop ?” gw mencoba bertanya kegiatan dia sekarang.

“masih lah, kapan maen ?” balas dia.

“besok gw rencana kesana, btw, sorry ni gw minta tolong dadakan, lw ada temen yang bisa maen alat music ga ? buat di tempat lw” tanya gw.

“wah buat cewe yaaa.” Tembak dia.

“yes, im still classic bro.” gw menjawab.

“lw mau bawain lagu apa ? gw coba cari temen gw yang lagi free”. Tanya dia.

“Bruno mars – marry you. Tolong yak bro, maaf ni dadakan, penting soalnya” gw mencoba meminta tolong lagi.

“Anjirr mau ngelamar lu ? Gw sih bisa klo itu doang, gw bantuin elu deh. Gini gini anak band gw”. Jawab dia.

“wokh serius lu gpp? Iyaa lw kan pernah cerita ke gw, makanya tadi gw minta tolong ke elu. Jadi enak dong gw, tolong ya gw besok dateng ke tempat lw jam maksi. Nanti gw whatsapp detail acaranya.”

Jadilah gw punya rencana ini.

Perlahan mila membuka matanya dan mencoba menikmati setiap moment yang ada, kali ini dia berusaha tersenyum, yak tersenyum, yang sedari tadi dia datang sampai pulang dia tidak ingin tersenyum tapi kali ini dia akan mencatat semua dalam pikirannya bahwa ada laki laki yang berusaha melamar dirinya walau semua sudah terlambat.

Lagu perlahan berhenti, dan gw mengucapkan terimakasih banyak ke ryan, dan mila pun melakukan hal yang sama. Dimomen ini gw berusaha senormal mungkin, karena hal berikutnya adalah hal yang tidak akan terlupakan dari ingatan gw.

“Mil, kamu udah selesai minum kopinya ?” tanya gw. Dan dia hanya memberikan jawaban anggukan.

“ kamu ga sadar ya kalo gelas ini agak ngga rata?” gw bertanya lagi, dia hanya bingung melihat gw.

Dan gw pun mengambil gelasnya lalu gw mengambil sebuah cincin yang ada dibawah gelas tersebut dan dia terkejut melihatnya.

Gw pun terkejut karena berikutnya, gw ga berhasil dong melepas cincin dari gelasnya sampai gw harus pinjem gunting ke ryan. Meeen, Seharusnya hal ini adalah momen romantic gw, malah menjadi sangat bodoh gini. 15 menit gw terbuang percuma.

Gw mencoba tetap cool dan santai. Setelah itu cincin terlepas, gw masukan ke kotaknya dan gw kasih dia, lalu gw bilang.

“ Once again, I will ask you, will you marry me ?”

Lama dia terdiam, dan gw melanjutkan bicara.

“I just want you to say no matter what your decision is , I will respect it”

Dia tiba tiba bergerak mendekat ke arah gw lalu dia memegang kotak cincinnya dan menutupnya.

Zhenggg.. gw di tolak dong. Namun pada detik berikutnya dia bicara.  

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)