Dia dan Bandara.

Sebenarnya hari ini berlangsung lancar, Cuma ada 1 kejadian yang kurang mengenakkan.
“ Mah, baju ku pada kemana yang coklat sama merah. Cuma dua itu doang baju yang keren punyaku” teriakku kepada mama.

“Mbok udah seminggu ga masuk lagi sakit, baju kamu udah dicuci tinggal disetrika doang, tapi setrika kita rusak, papa baru mau beli besok, kalau mau kamu ketempat laundry depan gih pinjem setrikaan” Kata Mama.

‘hadeeh ada ada aja deh, masa gw pake baju kerja si, atau gw pake jas aja, tapi itu pasti panas banget disana, udah kaya kepiting rebus nanti’ gw mulai mengeluh. Sebenarnya baju gw cukup banyak tapi kan gw pgn bikin kesan yang menyenangkan. Baiklah gw pake jas aja. Semoga hari ini mendung.

Siang pun tiba, dan suhu dihandphone gw menunjukkan 32 derajat, baiklah. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang, semoga dia mau gw ajak pindah tempat makan. Gw memarkir kendaraan tidak jauh dari masjid yang berada dari blok S. Meluangkan waktu sebentar untuk shalat lalu bersiap menuju lokasi tempat makan.

Siang ini sangat ramai, tidak jarang orang banyak yang berpasangan datang kesini, karena merasa panas sekali kuputuskan untuk langsung mengirim pesan.

“ Gw dah sampe yaa, nasi goreng nya itu yang ada dipertigaan itu kan ? yang deket tukang jus? Gw tunggu disitu ya”

“ Lho udah sampe ya, ini juga udah datang daritadi abis shalat dulu, sekarang lagi ngadem dimesjid, tunggu sebentar ya.” Mila membalas pesan gw.

Awalnya gw udah merasa dag dig dug, aneh rasanya, gw lupa udah berapa lama gw merasa lebih nyaman jika sendiri, terakhir gw dekat sama cewe, hamper 3 tahun lalu dan itu pun hanya sebatas gebetan karena yang jadian pun akhirnya temen gw, Bahasa sekarang dia nikung gw lah.

Sejak saat itu dibanding rasa sakit hati yang gw dapat akhirnya gw pun lebih memutuskan menutup diri, gw lebih fokus kerja dan juga menikmati hidup sendiri. Umur gw 28, dan termasuk umur yang telah siap untuk menikah, gw udah menyiapkan tabungan namun gw belom mendapatkan pasangan, yaa as long as I am happy, I don’t care with marriage.

Sudah 15 menit namun mila belom kunjung datang, mungkin ada benernya kata orang, jika menunggu cewe bersiap siap, kita bisa beli bakso, cuci baju, lari marathon 22km dan berangkat umroh dan haji, baru setelah itu semua selesai cewe baru siap.

Gw memtuskan lebih baik gw pesen makan duluan, untuk minum , ini udah es teh manis gw yang kedua, dan hampir habis pula saking panas nya udara disini. Sebelum gw pesen makan ternyata dia tiba di warung makan, lalu dengan senyum dia berkata ke gw,

“ Maaf lama yaa, tadi ternyata ada ibu ibu yang curhat gitu setelah terakhir balas whatsapp, kirain Cuma sebentar gak tahu nya lama banget.”

Gw cuma bisa bilang,

“ Iya gapapa kok, ga lama juga” padahal dalam hati gw udah gerah banget dan basah kuyup kali ini baju daleman.

“rapih banget, mau kemana lagi emang abis ini ?” tanya mila saat melihat gw memakai jas.

“ Ga ada kok, Cuma baju gw abis dicuci jadinya gw pake yang ada dulu” jawab gw jujur.

“oh gitu, Udah pesan makan belum ? pesann makan yuk. Mau pesen apaan? Biar dipesenin.” Mila menawarkan diri.

‘aku mau kamu aja’ pikiran gw melantur kemana-mana. Snap. Dan mulai sadar kembali setelah beberapa saat. Hari ini dia memakai pakaian yang cukup modis walaupun dia memakai hijab yang agak panjang, dia terlihat berbeda sewaktu memakai baju kerja dan hari ini, pesonanya cukup keluar menarik jiwa. Hampir aja gw langsung ke surga. Pede banget berasa masuk surga.haha.

“Emm, Nasi goreng kambing aja, ga pedes ya.” Gw menjawab

“Ga suka pedes yaa ?” tanya dia

“Suka sih, Cuma punya maag, kalo siang melilit agak tidak enak.” Jawab gw.

Perbincangan berlangsung lancar, gw akhirnya tahu bahwa rumah dia berada di salah satu daerah di Tangerang selatan. Dia bekerja di bandara sudah hampir 2 tahun, Dia anak kedua dari dua bersaudara, kakaknya sudah menikah dan pindah keluar kota bersama suaminya. Tinggal dia dan orang tuanya saja yang berada disini. Beruntungnya, dia ga bahas kejadian saat gw ketemu dia untuk pertama kalinya, terakhir yang gw wajib untuk tahu adalah dia saat ini tidak punya pasangan dan sedang mencari pasangan hidup. Karena orang tua nya berencana menjodohkan dirinya jika memang pada tahun depan masih belom juga memiliki pasangan.

Tidak terasa waktu berasa sangat cepat, sudah pukul 16.00, dan gw menawarkannya untuk diantar kerumahnya, namun dia menolaknya. Katanya biar tidak bolak balik jadi lebih baik dia naik kendaraan umum saja. Gw tawarkan untuk mampir ke terminal blok-m agar lebih mudah mendapatkan bis dari sana, dan dia mengiyakan.

Gw bertanya banyak tentang dirinya namun ntah kenapa ada kesan bahwa dia gak mau cerita terlalu banyak tentang dirinya. Seperti ada perasaan yang mengatakan bahwa, biarkan hubungan ini seperti air di sungai yang tenang, tidak terburu buru dan lebih menentramkan.

Baiklah, gw akan ikuti apa yang feeling gw katakan, gw cerita sedikit tentang asal usul gw, mimpi gw juga. Gw bercerita bahwa suatu saat nanti gw akan tinggal diluar negri untuk melanjutkan studi yang sedang di jalani sekarang dan juga punya mimpi jika suatu saat nanti punya anak, ingin tinggal disana, lalu balik lagi ke negeri ini jika anak telah lulus masa sekolah dasar. Untuk yang pertama gw menunggu pendamping hidup dulu agar tidak sendirian di negara orang. Untuk yang mimpi gw ,kebetulan sekali gw hampir berada di jalur yang tepat karena  pada saat kerja ke batam kemaren, Bos dari salah satu partner dari tempat gw bekerja menawarkan tawaran menarik. Perusahaan dia berasal dari singapura, dan juga sedang mencari posisi yang saat ini sedang gw tempati, Manager Product. Ini seperti takdir yang memang arahnya berjalan ke mimpi gw.

Waktu pun berjalan cepat dan tibalah kita di terminal blok-m, dia mohon pamit dan akhirnya sepanjang perjalanan, gw mencoba mencerna semua yang telah terjadi pada hari ini.

1 Year later.

Hubungan gw dengan mila berlanjut stagnan, alias tidak bergerak sama sekali, dikarenakan setelah pertemuan pertama, gw tidak pernah bertemu dengannya lagi karena sebulan kemudian setelah pertemuan itu, gw sudah meninggalkan ibukota, pergi ke Singapura demi menggapai mimpi gw.

Terakhir gw bertemu dia adalah di bandara, ya, lagi lagi bandara menjadi tempat special gw dan dia. Sewaktu itu, dia sedang tidak bertugas dan gw meminta dia untuk datang menemui gw, disitulah terakhir kali gw bertemu dengannya. One sweet last moments.

Awalnya pada bulan pertama dan kedua, gw masih berhubungan setiap harinya dan  terkadang juga menelfon untuk hanya sekedar mendengar suaranya, namun di bulan ketiga kesibukan gw meningkat, hampir bisa dibilang, sebagian waktu gw, adalah untuk bekerja. Lembur yang hampir setiap hari membuat gw sendiri hampir tidak bisa mempunyai waktu istirahat untuk diri gw sendiri. Disaat ini pun terkadang dia hanya mengingat kan gw tentang istirahat dan makan.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)